Menanam Mangrove Bersama Mahasiswa Stulap Prodi Biologi Angkatan 2020, Bersama Masyarakat Negeri Eti dan Muspika Seram Bagian Barat 


MENANAM UNTUK MELINDUNGI EKOSISTEM DAN MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL 


Oleh Fauziah Maisarah


Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) adalah salah satu burung paruh bengkok iconic dari sekitar 11 jenis yang hidup di Pulau. Burung endemik ini memiliki resiko kepunahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain yang memiliki sebaran luas. Perburuan dan penyelundupan illegal adalah ancaman utama terhadap Kakatua Maluku, Berdasarkan data KKI 2016-2020, terdapat hubungan positif dan signifikan antara populasi liar dan data penyitaan burung paruh bengkok di Pulau Seram.


Saat ini, selain dari perburuan dan perdagangan, ancaman besar lainnya untuk burung paruh bengkok adalah degradasi dan konversi habitat akibat pertumbuhan dan perkembangan penduduk disetiap Kabupaten di Pulau Seram sehingga mendorong terjadinya pemekaran wilayah. Banyak lahan yang dulunya adalah hutan telah terfragmen menjadi kawasan pemukiman dan tidak adanya koridor penghubung antar kawasan hutan.


Penyelundupan dan kondisi habitat yang rusak dan menyusut

Sebagai respon dari ancaman tersebut, Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) melalaui program pertamina hijau yang merupakan hasil kerja sama antara PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Wayame mencoba untuk mendorong proses penghijauan (reforestation) dan regenerasi lebih cepat, melalui kegiatan pembibitan dan penanaman pohon yang dimanfaatkan oleh burung paruh bengkok, baik itu untuk pakan maupun sarang dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan untuk masyarakat.


Langkah awal program ini dimulai dengan sosialisasi dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan konservasi burung paruh bengkok. Sosialisasi awal, tim KKI bersama masyarakat menetapkan wilayah survei burung dan lokasi rehabilitasi.


Program tahun pertama yang dimulai pada Januari 2024 dan berakhir pada Januari 2025 ini dilaksanakan di Negeri Eti, Seram Bagian Barat untuk mengelola lahan hijau di wilayah pesisir dan terestrial. Program Pertamina Hijau di Desa Eti berfokus pada pengkajian sumber daya alam pesisir pantai guna mengidentifikasi, mengobservasi, dan menginventarisasi potensi yang ada. Program ini berhasil mengumpulkan 1.500 bibit mangrove, dengan 300 bibit disemai di tempat pembibitan dan 1.200 bibit ditanam langsung di pesisir pantai Negeri Eti.


Restorasi hutan mangrove di Pantai Negeri Eti memiliki peran penting dalam memperbaiki ekosistem mangrove yang menjadi habitat ideal untuk sumber pakan dan tempat berkembang biak berbagai fauna pesisir, termasuk invertebrata, ikan, reptil, mamalia, serta burung liar. Selain berfungsi sebagai ekosistem penting bagi fauna tersebut, hutan mangrove juga berkontribusi dalam mengurangi dampak pemanasan global karena mampu menyimpan karbon sebanyak 152 ton di dalam tanah, hal tersebut menjadikannya komponen ekosistem yang efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.


Hasil inventarisasi mangrove di Negeri Eti dan Dusun Pelita Jaya menunjukkan adanya 16 jenis mangrove yang menjadi bagian penting dalam rehabilitasi ekosistem pesisir. Jenis-jenis tersebut meliputi Kedukduk (Lumnitzera racemosa), Pedada (Sonneratia caseolaris), Prapat (Sonneratia alba), Truntun (Lumnitzera littorea), Tanjang-putih (Bruguiera cylindrica), Bakau (Rhizophora mucronata), Api-api (Avicennia marina), Mentigi (Ceriops tagal), Jangkah (Rhizophora apiculata), Nipah (Nypa fruticans), Bogem (Barringtonia asiatica), Nyamplung atau Bintanggur (Calophyllum inophyllum), Pandan (Pandanus odorifer), Lindur (Bruguiera gymnorhiza), Duduk-rambat (Scyphiphora hydrophyllacea), dan Gigi gajah atau Tudung laut (Aegiceras corniculatum).


Perapat (Sonneratia alba) dan Duduk-rambat (Scyphiphora hydrophyllacea)


Selain inventarisasi mangrove, pengamatan juga dilakukan terhadap jenis burung menggunakan metode direct count, di mana seluruh jenis burung yang teramati pada jalur pengamatan dicatat dan dihitung jumlahnya. Selain burung, jenis-jenis mangrove yang teramati juga didata. Pengamatan dilakukan di tujuh jalur di Dusun Pelita Jaya dan satu jalur di Negeri Eti, dengan total panjang jalur pengamatan mencapai 3.150 meter.


Di Dusun Pelita Jaya, tercatat 45 jenis burung dari 24 famili dengan total 450 individu yang teramati selama pengamatan. Salah satu temuan menarik adalah keberadaan dua jenis burung paruh bengkok, yaitu Nuri Pipi Merah (Geoffroyus geoffroyi) dan Betet Kelapa Paruh Besar (Tanygnathus megalorynchos).


Jenis menarik lainnya yang berhasil ditemukan adalah Perling Maluku (Aplonis mysolensis), burung endemik yang jarang terinventarisasi dan sering kalah dominan oleh Perling Ungu (Aplonis metallica) serta lebih umum ditemukan di wilayah Maluku. Sayangnya, kedua jenis burung paruh bengkok tersebut tidak ditemukan di Negeri Eti, kemungkinan besar akibat perburuan dan perubahan habitat di wilayah tersebut. Masyarakat setempat pun menyadari adanya perubahan serta hilangnya beberapa jenis burung dari sekitar negari mereka


Nuri pipi-merah Geoffroyus geoffroyi dan Perling maluku Aplonis Mysolensis


Selain itu, hasil pengamatan di wilayah pesisir Negeri Eti mencatat keberadaan 18 spesies invertebrata seperti kepiting bakau dan kerang darah, serta tiga spesies ikan termasuk ikan tembakul yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis penting bagi masyarakat pesisir. Keberadaan fauna ini menunjukkan bahwa upaya rehabilitasi mangrove dapat mendukung pemulihan ekosistem serta meningkatkan produktivitas perairan pesisir. Selain itu menanam dan memelihara hutan mangrove dapat mereduksi pemanasan global dan 10 kali lebih efektif dibandingkan menanam pohon di daratan. Mari galakan menanam pohon sebagai habitat dan pakan alami satwa liar dan melawan ancaman pemanasan global