Kakatua merupakan burung langka yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sejak balita, orang tua, sekolah sudah mengenalkan burung kakatua melalui nyanyian. Informasi melalui media elektronik dan media cetak juga sering menampilkan burung ini dalam berita. Cerita anak, kemudian kebun binatang umumnya memiliki koleksi dan saat ini beberapa kebun binatang dan taman burung memiliki paket atraksi burung kakatua. Kita juga kadang mengenal kakatua dari tetangga, atau pehobi yang memelihara kakatua. Tak heran, kakatua ini sudah dikenal sejak abad ke-8–9 Masehi. Hal itu dibuktikan dengan adanya ukiran kakatua pada dinding Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Setelah lebih dari satu dekade lamanya, Perkici buru (Charmosyna toxopei) seakan hilang tanpa jejak. Burung endemik Pulau Buru ini jarang tercatat dalam pegamatan lapangan, sehingga informasi mengenai keberadaan, sebaran, maupun kondisi populasinya sangat terbatas.
Untuk menjawab kesenjangan informasi tersebut, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) berupaya melakukan penelitian untuk mencari keberadaan spesies endemik ini di beberapa pegunungan yang ada di Pulau Buru yang diduga masih menjadi habitat potensial bagi spesies endemik tersebut. Survei langsung serta observasi melalui wawancara telah dilakukan sejak tahun 2023 hingga 2025, menyisir wilayah Kabupaten Buru hingga Kabupaten Buru Selatan, meliputi Manapitu, Limanpoli, Wagrahi, Awilinan, Bara, Wasbakat, Waikeka, Nanali (Kepala Madan).
Di tengah arus modernisasi, adat istiadat masyarakat Negeri Huaulu tetap hidup dan mengakar kuat, menjadi nadi yang menggerakan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Salah satunya adalah masohi, praktik gotong royong yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat adat termasuk bagi masyarakat Negeri Huaulu. Secara umum, masohi berarti kegiatan gotong royong atau kerja sama secara sukarela antaranggota masyarakat untuk menyelesaikan pekerjaan yang bermanfaat bagi kepentingan bersama maupun individu.

Konservasi satwa liar tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat, begitupun yang terjadi di Desa Huaulu, Kecamatan Seram Utara, Provinsi Maluku. Desa Huaulu atau Negeri Huaulu merupakan salah satu Desa yang hingga saat ini hidup berdasarkan adat warisan leluhur dan masih memegang kuat kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan masyarakat dengan hutan, sumber daya alam, juga dengan satwa liar terkhususnya burung Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan turun temurun.

Jumat, 21 November 2025, saat mengunjungi Negeri Adat Huaulu, Pulau Seram, saya berkesempatan untuk melakukan program Conservation Awareness and Pride Program (CAP) ke salah satu sekolah dasar yang ada di Huaulu, yaitu SD Negeri 330 Maluku Tengah. Kegiatan kunjungan ke sekolah dasar ini dilakukan pada pukul 09.00 – 11.00 WIT. Antusiasme yang besar dari anak-anak SD Negeri 330 Maluku Tengah menyambut kami dengan hangat. Sebanyak 33 orang murid dan 3 orang guru turut berpartisipasi bersama dalam kegiatan ini.

Sebagai salah satu langkah baru dalam membantu upaya konservasi dan perlindungan burung paruh bengkok. Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia yang diwakili oleh kedua staff, Ali dan Geo mendapatkan kesempatan lewat grant yang diberikan oleh Asian Species Action Partnership (ASAP) untuk mengikuti kegiatan Training Workhsop yang dilaksanakan oleh EarthRanger pada tanggal 5-7 Agustus 2025 di Bangkok, Thailand. Kegiatan ini diikuti sebagai bentuk capacity building bagi kedua staff untuk menunjang setiap program dan kegiatan Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia sehingga lebih efisien dan efektif.

Bogor, 8-10 Agustus 2025, suasana sejuk Kota Hujan terasa semakin hidup ketika ratusan peneliti, pemerhati burung, mahasiswa, dan pecinta burung berkumpul dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) Ke-7. Mengusung tema “Harmonisasi antara Burung, Manusia, dan Lingkungan”, perhelatan ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman dan sekaligus menimba ilmu, hasil penelitian, serta semangat konservasi yang melintasi batas generasi dan wilayah.

Burung paruh bengkok dikenal sebagai salah satu jenis burung yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hal ini membuatnya menjadi salah satu jenis burung yang sangat digemari oleh para peminat burung, dikarenakan oleh kemampuannya dalam menirukan suara juga keindahan bulunya. Tak heran, bahwa jenis burung ini memiliki tingkat eksploitasi yang tinggi karena diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat secara illegal. Ini merupakan ancaman besar terhadap keseimbangan ekosistem dan kosongnya relung burung paruh bengkok di alam.
Perkici buru (Charmosyna toxopei) merupakan salah satu jenis spesies endemik Pulau Buru yang misterius. Spesies ini pertama kali ditemukan pada tahun 1921 oleh seorang ahli entomologi kelahiran Tuban, Lambertus Johannes Toxopeus. Dia menyebutkan bahwa jenis ini memiliki sebaran populasi yang sangat terbatas dan kemungkinan hanya tersebar di tepian sungai bagian barat Dataran Tinggi Rana. Catatan terkait dengan penemuan perkici buru ini sangat sedikit selama bertahun-tahun, sehingga perkiraan tentang besaran populasi jenis ini pun tidak dapat diperkirakan.

Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) baru-baru ini mendapat kesempatan bermitra dengan Yayasan Planet Indonesia (YPI) dan difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan melalui training Perencanaan Strategi Konservasi Keanekaragaman Hayati selama hampir empat bulan secara daring dan luring yang dimentori oleh PT Digdaya Citra Selaras. Training ini diikuti oleh KKI, TLGC (Toli-toli Labengki Giant Clam dan YPI. Training ini meliputi peningkatan keterampilan Coaching dan mentoring bagi leader konservasi, dan tahapan-tahapan perencanaan strategi konservasi keanekaragaman hayati.
Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) adalah salah satu burung paruh bengkok iconic dari sekitar 11 jenis yang hidup di Pulau Seram. Burung endemik ini memiliki resiko kepunahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain yang memiliki sebaran luas. Perburuan dan penyelundupan illegal adalah ancaman utama terhadap Kakatua Maluku, Berdasarkan data KKI 2016-2020, terdapat hubungan positif dan signifikan antara populasi liar dan data penyitaan burung paruh bengkok di Pulau Seram.

11 Mei 2024, ditemani cuaca kota Ambon yang berawan diselingi rintik-rintik hujan, sekelompok anak muda telah duduk menunggu di rumah payung FMIPA. Pagi itu memang jadwal para member KKI pengamatan burung, di kampus Unpatti tercinta. Kegiatan rutin ini merupakan ajang mengasah kemampuan para member dalam mengidentifikasi, mengasah kejelian mereka, kesabaran dan kedisiplinan. Meskipun cuaca sedang tidak terlalu bersahabat namun antusiasme peseta pengamatan sangat tinggi. Sekitar 12 member yang bergabung dalam pengamatan ini semuanya merupakan mahasiswa jurusan Biologi FMIPA Unpatti. Agar pengamatan lebih fokus maka kami coba bagi menjadi tiga tim. Tak lupa sebelum memulai mengamati kami melakukan briefing teknis pengamatan telebih dahulu, pembagian binocular dan tata cara pengisian work sheet.
Taman Nasional Manusela
Kekayaan alam serta panorama indah di Taman Nasional Masnusela sudah terkenal hingga mancanegara. Bahkan, TN Manusela masuk salah satu daerah konservasi alam terindah yang ada di Indonesia. TN Manusela memiliki luas 1,890 km2 ini merupakan surga bagi para pengamat burung untuk birdwatching dan fotografi. Terdapat sekitar 11 jenis burung paruh bengkok di TN Manusela. Jumlah jenis yang lumayan banyak dalam satu kawasan, dan terdapat tiga jenis yang endemik, diantaranya: (1) Kakatua maluku Cacatua moluccensis; (2) Nuri telinga biru Eos semilarvata; dan (3) Kasturi tengkuk ungu Lorius domicella.
Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea), menjadi salah satu spesies burung kakatua yang paling terancam punah di Indonesia. Meskipun umumnya tersebar luas di wilayah Indonesia Tengah, namun dalam kurun waktu 40 tahun terakhir terdapat penurunan jumlah yang sangat signifikan pada populasinya. Situasi ini menunjukkan penyusutan besar dan ancaman serius terhadap keberlangsungan spesies ini di seluruh daerah penyebarannya.
Kakatua maluku, Cacatua moluccensis, yang juga dikenal sebagai Kakatua Seram, merupakan salah satu kakatua yang terancam punah yaitu dengan status “Rentan” berdasarkan buku data list merah IUCN. di Indonesia. Kakatua maluku (Cacatua moluccensis) merupakan satwa endemik Maluku Selatan dan mempunyai risiko kepunahan lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain yang mempunyai wilayah sebaran lebih luas. Perburuan dan penyelundupan ilegal merupakan ancaman utama bagi spesies iconic ini. Tidak ada catatan terbaru mengenai populasi jenis ini di Saparua, Haruku, Nusa laut dan Buano. populasinya mungkin hanya bertahan di satu wilayah di Ambon, hanya menyisakan hampir seluruh populasi di Seram, yang dulunya melimpah, namun kini mengalami penurunan secara cepat, termasuk sekitar 20-40% penurunannya di satu wilayah selama tahun 1990an.

Langkah-langkah konservatif merupakan sebuah cara agar sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dapat terjaga dan tetap seimbang. Hubungan timbal balik antar unsur dalam sumberdaya alam hayati dapat berdampak pada ekosistem, termasuk keberadaan burung di dalamnya.