COP SCHOOL 15 : MENIMBA ILMU AKTIVISME KONSERVASI SATWA LIAR 


Oleh Al Khaidir Ali


Yogyakarta, 23-28 Juni 2025, Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menyelenggarakan COP School Batch 15 di Yogyakarta. Selama enam hari, sebanyak 43 peserta terpilih dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk belajar, berdiskusi, dan berlatih langsung mengenai konservasi satwa liar serta aktivisme lingkungan. Salah satu staf Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) atas nama Al Khaidir Ali mendapat kesempatan berharga untuk mengikutinya. Program ini telah menjadi ikon pendidikan non-formal sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2011. Melalui kombinasi materi teori, praktik lapangan, simulasi kampanye, serta refleksi bersama, COP School berupaya melahirkan generasi muda yang peduli, kritis, dan berani bergerak untuk melindungi alam. 


Selama mengikuti COP School 15, staf KKI memperoleh beragam pengalaman belajar yang sangat berharga. Staf KKI memperdalam pengetahuan tentang isu-isu konservasi, mulai dari perdagangan satwa liar, konflik manusia-satwa, hingga strategi perlindungan habitat yang efektif. Selain itu, staf juga mempelajari keterampilan kampanye kreatif untuk menyampaikan pesan edukatif kepada masyarakat, termasuk pemanfaatan media sosial. Praktik investigasi memberikan pengalaman langsung dalam mengamati, melakukan riset sederhana dalam mencari informasi. Pendekatan advokasi hukum dan kebijakan lingkungan yang dipelajari selama pelatihan juga menjadi bekal penting untuk mendukung program konservasi Kakatua Indonesia di Maluku. Lebih jauh, interaksi dengan peserta lain dari berbagai latar belakang meningkatkan kemampuan bekerja sama, berbagi ide, dan merancang solusi kolaboratif. Semua pengalaman ini mendorong staf KKI untuk merencanakan tindak lanjut yang konkret bagi penguatan program konservasi di daerah asal.


Aktivitas suasana belajar di COP School.

Bagi staf KKI yang mengikuti kegiatan ini, COP School 15 menjadi pengalaman penting yang memperkaya wawasan serta keterampilan. Pembelajaran tentang advokasi, komunikasi publik, dan kampanye sangat relevan untuk mendukung kerja-kerja KKI dalam melindungi burung paruh bengkok.


 COP School mengajarkan saya bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga satwa, tetapi juga membangun jejaring, strategi, dan keberanian untuk terus bergerak. Pengalaman ini akan saya bawa pulang untuk memperkuat program konservasi burung paruh bengkok di Maluku.”


Selain ilmu, COP School juga menjadi ajang memperluas jejaring. Melalui interaksi dengan peserta lain yang memilki latar belakang yang beragam. Mahasiswa, peneliti, pegiat komunitas, hingga aktivis muda, terbuka peluang kolaborasi untuk kampanye dan edukasi tentang satwa liar. Jejaring ini diharapkan dapat memperkuat Gerakan konservasi di Tingkat nasional.

Partisipasi staf Konservasi Kakatua Indonesia dalam COP School 15 merupakan Langkah penting dalam meningkatkan kapasitas sumber day a manusia Lembaga. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh, diharapkan program-program konservasi burung paruh bengkok di Maluku semakin kuat dan berdampak luas.


Partisipasi staf Konservasi Kakatua Indonesia dalam COP 15 menegaskan komitmen Lembaga untuk terus mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan memperluas dampak program konservasi. COP School kembali membuktikan diri sebagai ruang belajar, inspirasi, dan jejaring bagi generasi muda konservasi Indonesia, yang siap melanjutkan perjuangan menjaga satwa liar dan lingkungan di tanah air.