Tim Survei Keberadaan Perkici Buru


KOMPILASI GAMBARAN SINGKAT PROGRAM DI MALUKU 


Oleh Dwi Agustina


Kekayaan alam serta panorama indah di Taman Nasional Masnusela sudah terkenal hingga mancanegara. Bahkan, TN Manusela masuk salah satu daerah konservasi alam terindah yang ada di Indonesia. TN Manusela memiliki luas 1,890 km2 ini merupakan surga bagi para pengamat burung untuk birdwatching dan fotografi. Terdapat sekitar 11 jenis burung paruh bengkok di TN Manusela. Jumlah jenis yang lumayan banyak dalam satu kawasan, dan terdapat tiga jenis yang endemik, diantaranya: (1) Kakatua maluku Cacatua moluccensis; (2) Nuri telinga biru Eos semilarvata; dan (3) Kasturi tengkuk ungu Lorius domicella.


Begitu masuk dalam gerbang kawasan, barisan pohon-pohon tegak lurus menjulang dengan gagahnya siap menyapa. Diiringi sahutan suara burung bernyanyi dan jalan berkelok, yang biasa warga sebut dengan ‘jalan SS’, karena banyak sekali tikungan tajam seperti membentuk huruf S, dan naik turun membelah keheningan rimba rayaApabila beruntung dan jeli, saat melintas di jalur SS di Kawasan Taman Nasional ini dapat mencoba strawberry hutan Rubus rosifolius yang ada di pinggir jalan poros dan juga bertemu dengan kasuari Casuarius casuarius, si burung purba yang sangat besar dan tidak bisa terbang. Kasuari memiliki kaki yang sangat kuat karena digunakan untuk dapat berlari dengan kecang didalam hutan dan sebagai senjata untuk pertahanan.


Kasturi Tengkuk Ungu Lorius domicella dan Stroberi Hutan Rubus rosifolius

Negeri Adat Huaulu


Negeri adat Huaulu yang berada di kawasan penyangga TN Manusela adalah tempat yang paling eksotik dan menyimpan tradisi yang unik dan masih terjaga. Masyarakatnya masih memegang kearifan lokal yang masih terjaga. Berdasarkan kesepakatan bersama pada 19 Oktober 2019, mereka bersedia merubah kegiatan berburu burung kakatua seram menjadi hanya memanfaatkan bulu rontokan dari Pusat Rehabilitasi ataupun dari Kebun Binatang. Bulu burung kakatua ini dijadikan rangkaian seperti bunga dan menjadi mahkota yang digunakan untuk prosesi acara ‘Cidaku’ yaitu pengukuhan remaja Huaulu yang telah beranjak dewasa ditandai dengan dapat berburu.

Acara Adat Cidaku Dengan Mahkota Berasal Dari Jambul Kakatua Maluku

Tugu Stewart


Stewart Metz MD, adalah seorang dokter dari Amerika yang memiliki kepedulian terhadap burung paruh bengkok di Indonesia. Beliau menginisiasi dan mendirikan Pusat Rehabilitasi khusus untuk burung hasil sitaan, untuk dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang diberi nama ‘Kembali Bebas’. Beliau juga menjadi donator beberapa organisasi untuk upaya konservasi burung paruh bengkok, termasuk mendirikan Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia. Tugu ini dibuat sebagai penghargaan terhadapa jasa beliau yang dapat dilihat di Desa Masihulan, Seram Utara.


Pusat Rehabilitasi yang dibangun beliau merupakan sekolah untuk burung ataupun satwa yang akan dilepasliarkan, dengan meningkatkan naluri liarnya kembali. Untuk proses rehabilitasi burung-burung sebelum dilepasliarkan sangat bergantung dengan seberapa jinak dan keadaaan tiap individunya. Setelah di isolasi, di cek, di karantina dan di pantau aktivitas hariannya kemudian burung-burung ini dinilai apakah sudah siap dilepasliarkan di habitat aslinya dengan soft release step. Burung-burung tersebut akan disiapkan di kandang besar di hutan, dengan pengamatan intensif, dan dibiarkan pintu atap terbuka sebagai adaptasi. ‘Apabila burung ingin keluar, maka mereka dapat keluar, dan apabila mereka masih memutuskan untuk belum mau keluar, maka mereka masih bisa tinggal di kandang tersebut’. Kakatua adalah burung yang cerdas, sehingga meskipun pintu kandang dibuka, burung ini tidak akan langsung keluar, akan tetapi dia akan melihat daerah sekeliling dahulu, apabila merasa nyaman maka akan keluar dengan sendirinya. Selama kurang lebih satu minggu, akan tetap disediakan makanan, agar burung yang telah dilepasliarkan dapat makanan dan energi yang cukup sebelum benar-benar harus survive di alam. 


Stewart juga merubah kehidupan para penangkap burung di Negeri Masihulan menjadi perawat satwa. Dia juga menjadi inspirasi banyak orang yang kemudian memutuskan merubah hidupnya untuk menjadi konservasionis. Di akhir hidupnya, Stewart meminta abu jasadnya agar dapat di tebar di Taman Nasional Manusela, dan di kubur sebagian bersama burung Kakatua Maluku peliharaannya bernama ‘China’ di Masihulan.  Ini adalah tanda cintanya pada burung paruh bengkok dan alam Indonesia.


Tugu Mengenang Stewart Metz (Sang Konservasionis Sejati) dan Billboard PRS Kemabali Bebas


Burung pintar dan nakal dari Yamdena


Kepulauan Tanimbar adalah salah satu wilayah terluar di Indonesia dan berbatasan langsung dengan laut Australia. Letak Ibukota Kabupaten berada di Saumlaki yaitu di Pulau terbesar di Yamdena. Suku Tanimbar merupakan masyarakat yang berasal dari campuran Austronesia -Papua. Sedangkan kata “Tanimbar” berasal dari kata Tanempar dalam bahasa Yamdena Timur yang berarti ”Terdampar”. Dari pakaian adatnya menggunakan kain tenun khas yang berbeda dengan suku lain di Maluku, dilengkapi aksesoris burung cendrawasih di kepala dan gelang kaki yang terbuat dari gading gajah. Padahal kedua satwa tersebut tidak dapat ditemukan di Tanimbar.

Menurut cerita warga disana, pada jaman penjajah dulu mereka menukar aksesoris gelang gading gajah dengan tanah mereka karena dianggap benda mahal. Mereka juga menjelaskan bahwa dahulu burung cendrawasih ada di Pulau mereka, dan sekarang sudah tidak ditemukan lagi, sehingga warga Tanimbar memesan aksesoris cendrawasih dari Papua untuk upacara adat. Meskipun sampai saat ini belum ada temuan ilmiah yang menyatakan dulu pernah ada burung cendrawasih di Kepulauan Tanimbar.


Di pulau ini adalah habitat asli dari Kakatua Tanimbar Cacatua goffiniana, menjadi kakatua ini endemik. Ukuran kakatua ini lebih kecil dari kakatua lainnya, lucu, lincah dan menggemaskan. Akan tetapi, perilakunya memang bikin geleng-geleng kepala, sedikit agak nakal. Kakatua ini tidak hanya memakan hasil tanaman warga di atas pohon, akan tetapi juga dia menggali tanah untuk mendapatkan umbi-umbian seperti kasbi (singkong) dan patatas (ubi), perilaku yang tidak ditemukan pada kakatua jenis lainnya.


Kakatua Tanimbar Cacatua goffiniana


Eksotisme di Pulau Buru


Pulau Buru terletak di sebelah barat Pulau Seram dan sebelah barat laut Pulau Ambon. Kota Namlea merupakan Ibu Kota Kabupaten Buru. Pulau ini adalah salah satu tempat yang dijadikan lokasi persinggahan. Para pedagang melakukan perjalanan dari Gresik menuju Ambon, kemudian ke Seram, sebelum akhirnya berlabuh di Banda. Pulau ini dianggap penting dalam konteks perdagangan rempah karena menjadi salah satu sentra produksi cengkih di Maluku. Puncak tertinggi di Buru adalah Gunung Kapala Madang dengan 2,735 m dari permukaan laut.


Di Buru juga terdapat danau, salah satunya Danau Rana yang berada di daerah ketinggian 2,000 m dengan adat dan tradisi yang masih sangat terjaga dan memberikan unsur magis, sehingga tidak bebas untuk di kunjungi wisatawan. Tambang emas di Buru sudah sangat terkenal, yang dilakukan di Gunung Botak (dekat dengan kota Namlea). Penambangan yang tadinya hanya sekitar ratusan orang, berlipat ganda hingga puluhan ribu orang. Selain memiliki sumberdaya alam seperti emas, di dataran rendah di Pulau Buru terdapat tumbuhan kayu putih yang tumbuh liar tentu ini menjadi pontesi yang luar biasa, kualitas minyak kayu putihnya terbaik diantara minyak kayu putih dari berbagai daerah, sehingga menjadi salah satu ciri khas oleh-oleh dari Pulau Buru.

Mengamati burung di Buru bagian Barat sangatlah menarik. Ada 13 jenis burung yang endemic diantaranya: Merpati gunung mada Gymnophaps mada, punai buru Treron aromaticus, kring-kring buru Prioniturus mada, brinji emas buru Hypsipetes mysticalis, kepudang-sungu buru Coracina fortis, dan kepudang muka-hitam Oriolus bouroensis. Saat ini masih belum ditemukan Perkici Buru yang masih belum diketahui keberadaannya. Status burung ini adalah Critically Endagered, dengan terakhir ditemukan pada tahun  2014. Peneitian mendalam terhadap burung ini sangat diperlukan, sehingga diketahui apakah burung ini masih dapat ditemukan ataukah sudah punah di alam.


Danau Rana dan Kring-kring buru Prioniturus mada (Burung endemik buru)


Release di Wokam


Kepulauan Aru berada paling Timur di gugusan Kepulauan Maluku. Bahkan jika dilihat dari peta, harusnya sudah masuk kawasan Papua. Ternyata Kepulauan Aru adalah kumpulan pulau yang seperti membentuk puzzle. Dobo adalah Ibukota dari Kepulauan Aru yang berada di pulau Wamar yang berukuran kecil hanya 24 km2. Kota Dobo dikenal juga sebagai penghasil mutiara berkualitas tinggi dan memiliki sumber daya perairan yang berlimpah.


Kepulauan Aru memiliki spesies hewan langka dan endemik, seperti cendrawasih, kuskus, kasuari, dan kanguru. Untuk kakatua terdapat dua sub-spesies, yaitu Kakatua koki Cacatua galerita elonora dan Kakatua raja Probosciger aterrimus aterrimus. Karena letak geografisnya yang lebih dekat dengan Papua, maka jenis satwanya pun lebih mirip ke Papua dan Australia. Akan tetapi, ironisnya hewan-hewan tersebut sering diburu dan ditangkap untuk diperjualbelikan.


Pada Juni 2021, BKSDA Maluku, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia dan Universitas Pattimura telah melakukan pelepasliaran kakatua pertama di pulau Wokam. Perjalanan burung-burung ini sungguh sangat jauh untuk mereka kembali ke habitat aslinya. Setelah menyusuri hutan mangrove, burung-burung itu kemudian ditempatkan di dalam kandang untuk habituasi di dalam hutan sebelum benar-benar dilepaskan. Kegiatan ini dilakukan secara soft release, dan sangat berharap mereka dapat survive di alam. Program sosialisasi kepada masyarakat lokal perlu terus dilakukan, karena mereka adalah garda utama untuk menjaga kelestarian biodiversitas yang berasal dari wilayah mereka sendiri.    


Pelepasliaran 42 ekor Kakatua Jambul-Kuning Cacatua galerita eleonora dan Nuri Bayan Eclectus polychloros aruiensis Anak Jenis endemik Pulau Aru