Mengenal Lebih Dekat Peran Unik Kakatua Di Alam


Oleh Dudi Nandika


Kakatua merupakan burung langka yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sejak balita, orang tua, sekolah sudah mengenalkan burung kakatua melalui nyanyian. Informasi melalui media elektronik dan media cetak juga sering menampilkan burung ini dalam berita. Cerita anak, kemudian kebun binatang umumnya memiliki koleksi dan saat ini beberapa kebun binatang dan taman burung memiliki paket atraksi burung kakatua. Kita juga kadang mengenal kakatua dari tetangga, atau pehobi yang memelihara kakatua. Tak heran, kakatua ini sudah dikenal sejak abad ke-8–9 Masehi. Hal itu dibuktikan dengan adanya ukiran kakatua pada dinding Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Relief burung kakatua di candi Borobudur dan Perambanan

Burung kakatua merupakan salah satu jenis burung yang hidup di Indonesia bagian tengah dan timur. Indonesia memiliki tujuh jenis kakatua dan empat di antaranya merupakan jenis yang hanya hidup di Indonesia. Kakatua merupakan jenis burung dengan warna dominan putih atau hitam dengan ciri khas jambul yang bisa ditegakkan. Pola warna, bentuk dan ukuran jambul merupakan salah satu ciri pembeda dari setiap jenis burung kakatua. Karakteristik kakatua lainnya adalah bentuk paruh yang melengkung seperti kait sebagai ciri utama burung paruh bengkok, rahangnya yang sangat kuat dan juga tajam. Karakteristik paruh tersebut mendukung fungsinya sebagai burung pemakan buah dan biji. Umumnya, biji pohon-pohon kayu memiliki perlindungan berupa tempurung yang keras sehingga membutuhkan rahang yang kuat untuk dapat memecahkan tempurung biji-bijian di hutan. Selain itu, paruhnya yang kuat digunakan kakatua untuk membuat lubang sarang pada masa perkembangbiakan.

Sepasang kakatua sedang menggali lubang sarang

Kakatua umum menempati strata kanopi atas untuk mencari makan. Hal tersebut sesuai dengan jenis pakannya yang berupa buah dan biji. Kakatua memiliki kemampuan menetralisir racun atau toksin yang umumnya terkandung dalam biji-bijian. Sebagai alat perkembangbiakan, biji sudah dibekali tempurung yang keras dan juga toksin untuk mengurangi ancaman predator. Jika demikian, kenapa kakatua disebut sebagai pemencar biji padahal dia adalah pemakan biji? Lalu di mana pentingnya dan perannya kakatua dalam proses pemencaran biji atau zookori?

 Jika semua biji-bijian di hutan tumbuh tanpa adanya kontrol dari burung-burung pemakan buah dan biji, maka ekosistem terganggu karena persaingan individu baru akan semakin tinggi dan kemungkinan hidupnya akan rendah, apalagi jika buah dan biji jatuh di pohon induknya. Biji yang jatuh di pohon induknya akan kekurangan cahaya matahari karena tertutupi oleh kanopi induk yang tebal. Selain itu, beberapa pohon juga memiliki zat alelopati yang bersifat toksik untuk mencegah tumbuhan baru tumbuh di dekatnya. Karena jika banyak pohon baru tumbuh di dekat pohon induk, akan menjadi pesaing dalam mendapatkan nutrisi, unsur hara, dan juga cahaya matahari.

Perilaku "Pruning" pada Kakatua 

Kakatua memiliki peran ganda dalam proses perkembangbiakan pohon kayu di hutan, yaitu sebagai kontrol atau penjarangan jumlah biji yang akan tumbuh, yaitu melalui proses memakannya agar biji yang tumbuh dapat hidup optimal, dan peran yang kedua adalah memencarkannya agar biji yang tumbuh berada di tempat yang lebih tepat dan tidak bersaing dengan pohon induknya. Perilaku kakatua yang memakan pakannya tidak di tempat dia memetik buahnya dan selalu menyisakan makanannya merupakan naluri alami yang didesain secara ekologis sebagai pemencar biji. Kakatua merupakan pemakan buah dan biji secara umum, tidak seperti sebagian burung seperti julang atau rangkong yang hanya memakan buah beringin atau ficus. Kakatua memiliki peranan pemencaran biji yang lebih luas dan beranekaragam. Sesuai dengan peranannya sebagai perawat hutan, kakatua umumnya banyak ditemukan di wilayah ekoton atau hutan yang terganggu. Perilaku unik kakatua yang lain dan dianggap merusak tanaman adalah perilaku “Pruning”. Perilaku ini sebenarnya berperan penting bagi tumbuhan untuk regenerasi dan peremajaan kembali tanaman. Pruning ini bertujuan untuk membuang dan mengurangi batang atau ranting yang sudah tidak optimal dan terlalu rapat sehingga matahari lebih mudah masuk, sirkulasi udara lebih lancar, hama dapat diatasi, serta pertumbuhan baru akan terfokus pada pembungaan dan pembuahan. Manfaat pruning ini sudah terbukti  dapat menghilangkan hama kelapa yang membuat tanaman kelapa mati akibat tunasnya kering dan meregenerasi pohon kapuk hutan yang menjadi pohon pakan dan sarang kakatua di Pulau Masakambing, Sumenep, Jawa Timur.


Terbang Bebas dengan mengepakan kedua sayapnya merupakan cara burung untuk bersyukur dan menyembah tuhannya