Edukasi dan Penyadartahuan Siswa Siswi SMA Negeri 5 Seram Bagian Barat Maluku

Edukasi dan Penyadartahuan Untuk Membangun Kebanggaan Melalui Kampanye Tentang Burung Paruh Bengkok


Edukasi dan penyadartahuan merupakan bagian tak terpisahkan dalam Upaya konservasi. Masyarakat merupakan aktor utama dalam upaya konservasi. Membangun kebangaan dan kepedulian masyarakat terhadap burung paruh bengkok sangat penting agar dapat menjadi aktor utama dalam upaya konservasi. Sebagai pemilik wilayah masyarakat harus mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat agar pengelolaan burung paruh bengkok liar mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan. Pentingnya peran masyarakat dalam upaya konservasi, olehkarena itu Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) membuat program khusus yang kami sebut dengan Conservation Awareness and Pride Programme (CAP). Program ini telah lahir jejak awal berdirinya KKI yaitu tahun 2007.  

Dokumentasi Program Edukasi Burung Paruh Bengkok dari kiri berturut-turut Sekolah Dasar di Jakarta dan  

Masyarakat Adat Huaulu Seram Utara Maluku 

Program edukasi untuk penyadar tahuan dan membangun kebanggaan ini kami telah lakukan di tidak kurang dari 100 sekolah di Jabodetabek atau kurang lebih 6000 siswa dari siswa Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menegah Atas (SMA). Program edukasi ini juga terus berkembang ke seluruh wilayah dampingan seperti  di wilayah Kepulauan Masalembu di kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Dalam rangka upaya konservasi Kakataua-kecil jambul-kuning anak jenis abbotti yang hanya tirsisa tinggal 5 ekor pada tahun 1999 di pulau Masakambing. Upaya edukasi dan membangun kebanggaan masyarakat di kepulauan Masalembu khususnya di Pualau Masakambing yang dilakukan secara kontinyu terhadap seluruh elemen masyarakat selama 10 tahun  (tahun 2008-2018) telah berhasil meningkatkan populasi kakatua di Masakambing menjadi 22 ekor dan meningkatnya kebanggaan dan kepedulian masyarakat serta pemerintah setempat sampai tingkat kabupaten.  

Edukasi Tentang Burung Paruh Bengkok Urban Di Ancol Jakarta Serta Pemasangan Billboard di Pelabuhan dan Kantor Desa Di Masakambing 

Lebih dari 3000 orang telah di edukasi dalam melestarikan burung kakatua anak jenis khas Masakambing selama program berjalan. Edukasi dilakukan secara berkala di seluruh sekolah di Masakambing dan beberapa sekolah di Pulau Masalembu. bahkan program melibatkan Pelajar pecinta alam di di masalambu yang tergabung dalam "PA Kawali" untuk melakukan monitoring dan pemantauan secara berkala kakatua di Masakambing. Program tidak hanya menyentuh para pelajar saja namun program juga memberikan penyadartahuan dan kebaggaan pada tingkat desa dengan melakukan penyebaran undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, Peraturan pemerintah Nomor 7 tahun 1999 dan peraturan Bupati Sumenep tahun1995. Kemudian edukasi juga berlanjut di Masalembu sebagai ibu kota kecamatan. Tim KKI melakukan penyuluhan di Kantor kecamatan, Polsek dan Koramil. penyuluhan ini penting untuk membangun sinergi dalam upaya pelestarian kakatua di Masakambing. tidak sampai di disitu saja upaya penyadartahuan ini kemudian berkembang ketingkat yang lebih tinggi yaitu di tingkat kabupaten. Bersama pihak kecamatan KKI mencoba melakukan penyebaran informasi secara kontinyu melalui even pameran pembangunan yang di adakan bertepatan dengan perayaan ulang tahun kota Sumenep.      

Kampanye bersama PA Kawali dan Pameran pembangunan di Sumenep yang di hadiri beberapa wisatawan asing

Edukasi Terus berkembang ke beberapa wilayah sebaran kakatua-kecil jambul-kuning seperti di wilayah Sumba Barat. Sulawesi Tenggara di wilayah yang berada di sekitar TN Rawa Aopah Watumohai dan Buton, Sulawesi Tengah wilayah Palu dan Donggala. walaupaun program program bukan program yang kontinyu seperti yang dilakukan di wilayah Jabodetabek dan Masakambing namun penyebaran informasi ini merupakan salah satu upaya KKI untuk membangun kesadaran dan kebanggaan masyarakat di wilayah sebaran kakatua. pendataan ulang status kakatua-kecil jambul-kuning ini dibeberpa wilayah sebarannya juga berhasil menyebarkan informasi dan membangun kebangaan masyarakat di puluhan sekolah dan juga masyarakat.  Program edukasi ini terus di replikasi kewilayah timur Indonesia. Maluku sebagai salah satu wilayah sebaran burung paruh bengkok dengan endemisitas yang tinggi sekaligus ancamannya juga tinggi.  Upaya edukasi diawali dari pusat penyebaran kakatua yaitu di wilayah Seram. Masihulan dan Huaulu merupakan target awal edukasi di Pulau Seram. dua desa tersebut merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Manusela sebagai salah satu pusat sebaran kakatua maluku dan masih sangat kental dengan perilaku berburu satwa liar.  Perilaku berburu tersebut bahkan merupakan ritual adat tersendiri bagi masayarakat Huaulu. 

Penyuluhan di SMA Negeri 2 Ambon dan SD Negeri Tablasupa, Jayapura

Huaulu Sebagai salah satu negeri atau desa adat yang termasuk dalam kawasan penyangga Taman Nasioanal Manusela dan desa-desa penyangga lain tentunya perlu mendapat perhatian dan pendampingan penyadartahuan secara kontinyu. Peran masyarakat dan pelajar dikawasan penyangga sangat penting dalam membantu pengawasan dan pelindungan kawasan. edukasi membangun kebanggaan dan melibatkan masyarakat dalam upaya-upaya konservasi didalam kawasan tentu akan sangat membantu stakeholder terkait menjalankan tugasnya dilapangan. Hal ini lah yang dilakukan KKI disela-sela program penelitian yang dilakukan di seluruh resort TN Manusela KKI menyempatkan diri untuk melakukan penyadartahuan kepada masyarakat dan para pelajar disekitar wilayah penelitian baik melalui metode persentasi maupun penyebaran media konservasi stiker, poster serta papan informasi di setiap kantor Seksi dan Resort. Program ini berhasil mengedukasi lebih dari 500 orang diempat resort, delapan desa yang berada dalam wilayah resort tersebut. Penyadartahuan ini juga terus berkembang ke ke seram bagian barat yaitu di wilayah Luhu, dan negeri Eti dan telah berhasil menyebarkan informasi terhadap 150 orang baik masyarakat umum maupun pelajar. Penurunan kualitas habitat dan populasi satwaliar khussunya burung paruh bengkok juga terjadi di kota Ambon. Sebagai ibukota provinsi Ambon juga memiliki peran penting untuk mempertahankan wilayah hutan dan satwa liar yang ada didalamnya sehingga tidak tergerus oleh pembangunan wilayah yang sedang berkembang. progaram edukasi dan membangun kebangaan ini perlu dilakukan secara lebih masif, serentak dan luas di seluruh wilayah Maluku.  

Penyuluhan di SMP Negeri 97 Saunulu, SMP Negeri 101 Moso, Penyerahan media edukasi poster kepada pihak Negeri Soya dan Kampanye penyebarluasan pelestarian burung paruh bengkok di kota Ambon