
Oleh Geovanny Leoni Leleulya
Jumat, 21 November 2025, saat mengunjungi Negeri Adat Huaulu, Pulau Seram, saya berkesempatan untuk melakukan program Conservation Awareness and Pride Program (CAP) ke salah satu sekolah dasar yang ada di Huaulu, yaitu SD Negeri 330 Maluku Tengah. Kegiatan kunjungan ke sekolah dasar ini dilakukan pada pukul 09.00 – 11.00 WIT. Antusiasme yang besar dari anak-anak SD Negeri 330 Maluku Tengah menyambut kami dengan hangat. Sebanyak 33 orang murid dan 3 orang guru turut berpartisipasi bersama dalam kegiatan ini.


Suasana Kondisi Negeri Adat Huaulu dan aksi Conservation Awareness and Pride (CAP)
Sesuai dengan tema, dalam kegiatan ini kami mengenalkan 11 jenis burung paruh bengkok yang dapat ditemukan di Pulau Seram kepada anak-anak. Kunjungan ini bertujuan mengenalkan kepada mereka tentang spesies-spesies asli yang berasal Pulau Seram, khususnya Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) yang merupakan spesies asli dari Negeri mereka. Sebagian besar anak-anak ini, sudah tidak asing dengan beberapa jenis burung tersebut. Mereka berbagi cerita tentang burung-burung yang mereka lihat, seperti burung Kakatua dan nuri, bahkan ada diantara mereka ada yang mengaku memelihara burung-burung tersebut sebagai hewan peliharaan.
Suasana menggambar dan mewarnai burung kakatua dan nuri di Sekolah SDN 300 Maluku Tengah
Salah satu jenis burung paruh bengkok yang mudah dikenali anak-anak, yaitu burung kakatua, dihadirkan sebagai maskot dalam kegiatan ini. Kehadiran maskot ini tidak hanya menarik perhatian dan menambah keceriaan suasana, tetapi juga menjadi media edukasi yang efektif untuk memperkenalkan ciri khas, perilaku burung paruh bengkok. Karakter yang ceria lewat peragaan maskot ini membantu anak-anak lebih dekat dan lebih mudah mengingat materi yang disampaikan, sehingga pesan konservasi dapat diterima dengan cara yang menyenangkan dan membekas dalam ingatan mereka.


Membangun kebanggaan dan pengetahuan tentang burung kakatua dan nuri sebagai penghuni hutan di desa adat mereka di Maluku