
Burung paruh bengkok dikenal sebagai salah satu jenis burung yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hal ini membuatnya menjadi salah satu jenis burung yang sangat digemari oleh para peminat burung, dikarenakan oleh kemampuannya dalam menirukan suara juga keindahan bulunya. Tak heran, bahwa jenis burung ini memiliki tingkat eksploitasi yang tinggi karena diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat secara illegal. Ini merupakan ancaman besar terhadap keseimbangan ekosistem dan kosongnya relung burung paruh bengkok di alam.


Aksi Kampanye Damai Pelestarian Burung Paruh Bengkok Dalam Peringatan World Parrot Day
31 Mei, diperingati sebagai Hari Burung Paruh Bengkok Sedunia. Peringatan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan penyadartahuan bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian burung paruh bengkok di alamnya. Sebagai sebuah seruan bagi masyarakat, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia melakukan aksi kampanye dan edukasi di tiga lokasi berbeda secara serentak yaitu di Kota Ambon, Kebun Binatang Gembira Loka Jogjakarta, dan Kebun Binatang Sosto di Hungaria. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk mengedukasi serta mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam melindungi habitat serta menghentikan perburuan dan perdagangan liar burung paruh bengkok.
Aksi longmarch di lakukan di Kota Ambon dengan mengajak partisipasi mahasiswa dari Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, juga mahasiswa dari Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura. Aksi longmarch ini dilakukan di sepanjang jalan Pusat Kota Ambon sambil membagikan informasi berupa Poster, sticker, leaflet yang berisikan pesan konservasi guna menumbuhkan rasa kesadaran dan kebanggan untuk jenis burung paruh bengkok, satwa unik dan eksotik yang ada di Provinsi Maluku. Setelah aksi longmarch ini dilaksanakan, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia juga melakukan sesi Talkshow bersama dengan Prof. Ir. Ign. Pramana Y. M.Si., Ph.D selaku Pesident IdOU dan dosen FTB, Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Sesi Talkshow ini diselenggarakan sebagai wadah bagi mahasiswa dari Jurusan Biologi dan Jurusan Kehutanan di Universitas Pattimura untuk belajar dan lebih dalam mengenal burung khususnya burung paruh bengkok, juga tentunya sebagai wadah untuk menyebarkan pesan konservasi bagi generasi muda.


Talk show meningkatkan pengetahuan tentang burung dan metode-metode terkini dalam penelitian burung di alam
Perayaan World Parrot Day juga di laksanakan di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, pada tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2025, salah satu sorotan acara tahun ini adalah persembahan Tarian Cakalele khas Maluku, tarian yang penuh semangat dan energi, dibawakan oleh Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia dengan kostum tradisional yang memukau. Tarian ini memiliki keterkaitan dengan Upacara Adat Cidaku dari masyarakat adat Huaulu, Seram Utara. Dalam upacara tersebut, terdapat syarat penggunaan mahkota dari bulu jambul Kakatua Maluku, burung cantik yang kini statusnya terancam punah. Melalui pertunjukan ini, pengunjung diajak memahami bagaimana budaya dan konservasi saling berkaitan, serta pentingnya menjaga agar spesies-spesies berharga ini tetap lestari. Tak kalah meriah, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia turut hadir memeriahkan acara dengan membuka booth. Di sini, pengunjung bisa menemukan merchandise Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia serta beragam pernak-pernik khas Maluku. Disamping itu Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia juga aktif berbagi informasi dan pesan-pesan konservasi mengenai burung paruh bengkok—mulai dari ancaman perdagangan ilegal hingga upaya penyelamatan habitat. Acara ini tidak hanya menghadirkan hiburan budaya yang memikat, tetapi juga menjadi wadah edukasi yang menyentuh hati. World Parrot Day di Gembira Loka mengajak semua lapisan masyarakat untuk melihat lebih dekat, memahami, dan berkontribusi dalam upaya melestarikan burung-burung ini.


Kampaye Pelestarian Burung Paruh Bengkok Dengan Pengunjung di Kebun Binatang Gembira Loka Jogjakarta