
Oleh Geovanny Leoni Leleulya
Setelah lebih dari satu dekade lamanya, Perkici buru (Charmosyna toxopei) seakan hilang tanpa jejak. Burung endemik Pulau Buru ini jarang tercatat dalam pegamatan lapangan, sehingga informasi mengenai keberadaan, sebaran, maupun kondisi populasinya sangat terbatas.
Untuk menjawab kesenjangan informasi tersebut, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) berupaya melakukan penelitian untuk mencari keberadaan spesies endemik ini di beberapa pegunungan yang ada di Pulau Buru yang diduga masih menjadi habitat potensial bagi spesies endemik tersebut. Survei langsung serta observasi melalui wawancara telah dilakukan sejak tahun 2023 hingga 2025, menyisir wilayah Kabupaten Buru hingga Kabupaten Buru Selatan, meliputi Manapitu, Limanpoli, Wagrahi, Awilinan, Bara, Wasbakat, Waikeka, Nanali (Kepala Madan).
Kringring Buru dan Perkici Buru
Di tengah keterbatasan data dan catatan pengamatan yang sangat minim, menemukan kembali Perkici buru seoleh mencari burung di tumpukan jerami, seakan sebuah harapan yang sulit diwujudkan. Upaya pencarian Perkici Buru yang dilakukan oleh Tim KKI pun tidak terlepas dari berbagai tantangan. Medan yang sulit dijangkau juga terbatasnya akses menuju lokasi survey menjadi hambatan utama di lapangan. Di sisi lain, maraknya aktivitas pembalakan di sejumlah kawasan Pulau Buru turut mengancam keberlangsungan habitat hutan yang menjadi habitat spesies endemik ini semakin menyusut. Deforestasi massive akibat perusahaan kayu telah mengekstraksi hampir seluruh wilayah Pulau Buru sampai ketinggian 1400 mdpl. Aktifitas ini tidak hanya menghilangkan habitat, pakan dan sarang Perkici buru juga mengancam 32 spesies endemik Indonesia dimana 14 spesies dan 14 subspesies diantaranya adalah burung endemik Buru. Ini menujukan bahwa tekanan terhadap ekosistem di Pulau Buru berpotensi mengancam kelestarian keankeragaman hayati di dalamnya.


Kayu Tebangan perusahaan dengan ijin konsesi hutan alam
Adanya perusahaan kayu dengan izin konsesi hutan alam mengakibatkan habitat perkici buru semakin menyusut dan tidak lagi ditemukan di ketinggian 700 sampai 1600 mdpl sesuai data awal perjumpaannya. Setelah bertahun-tahun pencarian penuh tantangan yang dilakukan, harapan itu akhirnya terjawab pada April 2026. Perkici buru (Charmosyna toxopei), spesies endemik Pulau Buru yang selama ini tersembunyi, kini berhasil ditemukan kembali bersama beberapa jenis burung lain yang sebelumnya belum pernah terdeskripsi di lokasi tersebut. Temuan ini terjadi di kawasan dataran tinggi Kepalat Mada, di wilayah yang terisolasi dan sulit diakses.
Kring-kring Buru
Penemuan ini menjadi catatan penting untuk mengetahui lebih dalam bioekologinya yang masih sangat terbatas dan perlu adanya upaya konservasi agar perjumpaan ini bukan menjadi awal dan sekaligus akhir keberadaannya, tetapi justru ini menjadi titik menjauhkannya dari ancaman kepunahan. Selain informasi terkait Perkici Buru yang setelah lebih dari satu dekade tercatat dengan data yang sangat minim, ekspedisi ini juga mengungkap potensi kekayaan hayati yang masih tersimpan di kawasan pegunungan Pulau Buru. Ekspedisi ini dipimpin oleh Pecinta Alam Kanal Buru, American Bird Conservancy, Birdtour Asia, dan Yayasan Planet Indonesia.
Kring-kring Buru